Ancaman Kebutaan Menghadang di Usia Senja

Kompas.com - 04/11/2008, 09:50 WIB

KATARAK merupakan salah satu ancaman bagi orang yang usianya mulai menginjak senja. Meski bisa juga menyerang anak-anak, katarak memang kebanyakan menyerang seseorang yang usianya sudah berada di atas 50 tahun.

Jangan meremehkan penyakit yang satu ini. Katarak merupakan penyakit mata nomer satu yang menyebabkan kebutaan di Indonesia. "Kebutaan yang disebabkan katarak mencapai 60 persen," War Istiantoro, Direktur Jakarta Eye Center.

Menurut catatan Upik Mahna Dewi, Dokter Spesialis Mata dari Klinik Mata Nusantara, angka kebutaan di Indonesia saat ini mencapai 1,5 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Artinya, dari 220 juta orang Indonesia sekitar 3,3 juta orang di antaranya mengidap kebutaan.

Lalu, apa sih, katarak itu? Katarak adalah keadaan di mana lensa alami yang transparan dalam bolamata berubah menjadi keruh. Keruhnya lensa ini mengakibatkan sinar atau bayangan dari objek yang dilihat tak diteruskan ke saraf mata.

Alhasil, penderita tak bisa melihat dengan jelas, karena cahaya sulit mencapai retina. Kalaupun sampai, yang tampak adalah bayangan kabur pada retina.

Katarak sendiri bisa kita kelompokkan berdasar penyebab dan tingkat kematangannya. Dari penyebabnya, ada 4 jenis katarak ;

Pertama, katarak kongenital. Katarak ini umumnya diderita bayi dan anak-anak. Gangguan mata ini timbul sejak bayi berada dalam kandungan atau setelah dilahirkan karena adanya infeksi atau kelainan metabolisme saat pembentukan janin.

Kedua, katarak senilis yang timbul lantaran proses penuaan atau degeneratif. Jenis katarak inilah yang banyak terjadi di Indonesia.

Menurut Upik, orang yang berumur 70 tahun ke atas paling rentan terkena katarak. "Angka kejadiannya sekitar 90 persen," imbuhnya. Artinya, dari sepuluh orang berusia di atas 70 tahun, sembilan diantaranya penderita katarak.

Sedangkan angka insiden untuk usia 50 tahun hingga 60 tahun yakni 30%. dan usia 60 tahun-70 tahun sebanyak 60 persen.

Ketiga, katarak traumatik. Trauma atau kecelakaan langsung pada mata. Misalnya, pukulan tangan bisa menjadi penyebab katarak jenis ini.

Keempat, katarak komplikata. Biasanya, katarak jenis ini terjadi karena infeksi atau penyakit tertentu seperti diabetes melitus atau hipertensi.

Pada penderita diabetes terjadi gangguan metabolisme tubuh yang menyebabkan penurunan kualitas nutrisi yang dibutuhkan lensa. "Akibatnya, lensa mata jadi cepat keruh," terang Upik.

Katarak tak bisa diobati

Adapun menurut tingkat kematangannya, katarak dibedakan menjadi imature atau katarak awal, mature (katarak matang), dan hipermature (sangat matang). Tingkat kematangan inilah yang berpengaruh pada jenis operasi yang bisa dipilih.

Sayangnya, penderita umumnya sulit mengenali gejala-gejala serangan penyakit katarak ini. Pasalnya, gangguan mata ini tak menimbulkan rasa perih. Katarak hanya bisa dilihat dengan bantuan alat slit lamp biomicroscope. "Dengan alat itu, pada lensa mata yang terkena katarak akan terlihat warna putih atau coklat gelap di bagian tengah anak mata atau pupil," papar Tjahjono D. Gondhowiardho, Ketua Persatuan Dokter Mata Seluruh Indonesia (PERDAMI).

Yang perlu kita ingat, katarak tak bisa diobati. "Satu-satunya cara membebaskan mata dari katarak hanya melalui pembedahan untuk mengganti lensa mata," jelas Istiantoro.

Karena itu,. yang terbaik tentu saja mencegah munculnya penyakit ini. Cara yang terbaik tentu saja menjaga asupan gizi sejak dini. "Keseimbangan nutrisi dari sayuran, buah, serta suplemen relatif dapat menunda terjadinya katarak pada usia lebih tua," terang Tjahjono. (Tunggul Joko Pamungkas)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau